Saturday, 28 December 2019

Hakikat ilmu laduni forex


Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31III1425 Ilmu kasyaf atau yang lebih dikenali dengan ilmu laduni (ilmu batin) tidaklah asing ditelinga kita, lebih 8211 lebih lagi bagi siapa saja yang sangat erat hubungannya dengan tasawuf beserta tarekat-tarekatnya. Kata sebahagian orang: 8220Ilmu ini sangat jarang di jumpai dan keramat. Bukan sembarang orang dapat meraihnya, kecuali para wali yang telah sampai pada tingkat ma8217rifat. Sehingga jangan sembarangan untuk buruk sangka, apalagi mengkritik wali-wali yang tingkah lakunya secara zahir menyelisihi syariat. Wali-wali itu beza tingkatnya dengan kita, mereka sudah sampai tingkat ma8217rifat yang tidak boleh ditimbang dengan timbangan syari8217at lagi8221. Hakikat Ilmu Laduni Kaum sufi telah mengumumkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan penyucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersingkaplah seluruh rahsia-rahsia alam ghaib bahkan dapat berkomunikasi secara langsung dengan Allah, para Rasul dan roh-roh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah dapat diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkat ma8217rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu. Ini bukan suatu bualan atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh popular kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri. 1. Al Ghazali dalam kitabnya Ihya8217 Ulumuddin 111-12 berkata: 8220Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala 8230 inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas 8230 8220. Dia juga berkata: 8220Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sedar) dapat menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga roh-roh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung Mengambil ilmu-ilmu dari mereka8221. (Jamharatul Auliya8217: 155) 2. Abu Yazid Al Busthami berkata: 8220Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: 8220Hatiku telah menceritakan kepadaku sobre Rabbku8221. (Al Mizan: 128) 3. Ibnu Arabi berkata: 8220Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kimat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung para Alá yang disematkan ke dalam dada-dada mereka.8221 (Rasa8217il Ibnu Arabi hal. 4) tokoh wihdatul wujud ini juga berkata: 8220Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal para Allah Allah 8216Azza wa Jalla secara langsung Tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistem belajar modelo tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah 8216Azza wa Jalla 8211 sampai dia berkata 8211 maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka8221. Ilmu Laduni Dan kesan Negatifnya Terhadap Umat Kaum sufi dengan ilmu laduninya memiliki peranan sangat besar dalam merosak agama Islam yang mulia ini. Dengannya bermunculan akidah-akidah kufur 8211seperti diatas 8211 dan juga amalan-amalan bid8217ah. Selain dari itu, mereka secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam hal memperbodohkan umat. Kerana menuntut ilmu syar8217i merupakan pantang besar bagi kaum sufi. Berkata Al Junaidi: 8220Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, kerana dengan begitu ia boleh lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3135) Abu Sulaiman Ad Daraani berkata: 8220Jika seseorang menuntut ilmu hadits atau bersafar mencari nafkah atau berkahwin bererti ia telah condong kepada dunia8221. (Al Futuhaat Al Makiyah 137) Berkata Ibnul Jauzi: 8220Seorang guru sufi ketika melihat muridnya memegang pena. Ia berkata: 8220Engkau telah merosak kehormatanmu.8221 (Tablis Iblis hal. 370) Oleh kerana itu Al Imam Asy Syafi8217i berkata: 8220Ajaran tasawuf itu dibangun atas dasar rasa malas.8221 (Tablis Iblis: 309) Tak sekadar melakukan tindakan pembodahan umat. Dengan membahagi umat manusia menjadi tiga kasta iaitu: syariat, hakikat, dan ma8217rifat, seperti Sidarta Budha Gautama membagi manusia menjadi empat kasta. Sehingga seseorang yang masih pada tingkat syari8217at tidak boleh baginya menilai atau mengkritik seseorang yang telah mencapai tingkat ma8217rifat atau hakikat. Syubhat-Syubhat Kaum Sufi Dan Bantahannya 1. Kata laduni mereka petik dari ayat Allah yang berbunyi: 1614161416141617161416141615 16161618 1614161516171614 161616181611 8220Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu8221. (Al Kahfi: 65) Mereka memahami dari ayat ini adanya ilmu laduni sebagaimana yang Allah anugerahkan ilmu tersebut kepada Nabi Khidhir. Lebih anehnya mereka meyakini pula bahawa Nabi Khidhir escondeu sampai sekarang e membuka majlis-majlis ta8217lim bagi orang-orang khusus (ma8217rifat). Telah menjadi ijma8217 (kesepakatan) seluruh kaum muslim, wajibnya beriman kepada nabi-nabi Allah tanpa membezakan satu dengan yang lainnya danka mazka diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Nabi Khidhir diutus untuk kaumnya dan syari8217at Nabi Khidhir bukanlah syari8217at bagi umat Muhammad. Rasulullah bersabda: 16141614 16171614161616171615 1615161816141615 16161614 1614161816161616 1614161716141611 16141615161616181615 16161614 161716141616 1614161716141611 8220Nabi Yang terdahulu diutus Khusus kepada kaumnya Sendiri dan aku diutus kepada Todos Cronometram UMAT manusia8221 (Muttafaqun 8216alaihi) Alá berfirman: 16141614 161416181614161816141614 161616171614 1614161716141611 1616161716141616 161416161611 1614161416161611 16141614161616171614 1614161816141614 161716141616 1614 16141618161416151614 8220Dan Kami tidak Mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan8221. (Como Saba8217: 28) Adapun keyakinan bahawa Nabi Khidhir masih hidup dan terus memberikan ta8217lim kepada orang-orang khusus, maka bertentangan dengan Al Qur8217an dan Como Sunnah. Allah berfirman: 16141614 1614161416181614 1616161416141613 16161618 1614161816161614 1618161516181614 1614161416161618 161616171614 161416151615 16181614161616151614 (ertinya) 8220Kami tidak menjadikan escondido abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). (Al Anbiya8217: 34) Rasulullah bersabda: 1614 16161618 161416181615161816141613 161416181614 1614161816161618 1614161416181614 161616141615 161416141613 161416161614 16141618161416161613 1614161716141612 8220Tidak satu jiwapun hari ini yang akan bertahan hidup setelah seratus tahun kedepan8221. (H. R Em Tirmidzi dan Ahmad) Adapun keyakinan kaum sufi bahawa seseorang yang sudah mencapai ilmu kasyaf, akan tersingkap baginya rahsia-rahsia alam ghaib. Dengan cahaya hatinya, ia boleh berkomunikasi dengan Allah, para Rasul, malaikat, ataupun wali-wali Allah. Pada tingkat musyahadah, i dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas apapun. Cukup dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, sudah boleh dikatakan ia sebagai seorang pendusta. Rasul Shalallahu 8216alaihi wassalam adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun Nabi Shalallahu 8216alaihi wassalam tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya. 16151618 16161618 161416181616 1614161416161612 1615161416151614 16141618 1614161816141615 1614 16141615 161416171616 161416141611 161416161615 1618161416181616 16141614 6483164830 16141614 1615161816161615 1614161816161616 161416141611 8220Dia (Alá) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Diâmetro tidak memperlihatkan seseorangpun tentang Yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya8221. (Al Jin: 25-26) Apalagi mengaku dapat berkomunikasi dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik melalui suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas adalah kedustaan ​​yang paling dusta. Akal sihat dan fitrah suci pasti menolaknya sambil berkata: 8220Tidaklah muncul perkataan seperti itu kecuali dari orang tertekan saja8221. Kalau ada yang bertanya, lalu Suara dari mana itu Dan Siapa yang diajak berbual Kita jawab, maha benar Allah dari segala firman-Nya: 16141618 1615161416171616161516151618 16141614 16141618 16141614161716141615 16171614161416161615 6483164830 16141614161716141615 16141614 161516171616 1614161716141613 161416161613 6483164830 1615161816151614 1617161416181614 1614161416181614161516151618 1614161616151614 6483164830 8220Apakah akan beritakan Aku, Kepada siapa syaitan-syaitan itu turun Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta8221. (Asy Syu8217ara: 221-223) 2. Sebahagian kaum sufi beralasan dengan pernyataannya bahawa ilmu laduni (Al Kasyaf) merupakan ilham dari Allah (yang diistilahkan ilham). Dengan dalih teve Nabi Muhammad: 1616161716141615 16141618 16141614 16141618161416151618 16161618 161416141616 1615161416171614161516181614 161416161618 161416141618 16161618 1615161716141616 161416141612 161416151614 8220Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.8221 (Muttafaqun 8216alaihi) Hadits ini sama sekali tidak dapat dijadikan hujjah bagi mereka. Makna dhohir teve ini, menunjukkan keberadaan ilham itu dibatasi dengan huruf syarat (kalaulah ada). Maksudnya, kalaupun ada pada umat ini, pastilah orang yang mendapatkan ilham adalah Umar Ibnul Khathab. Sehingga beliau digelar al mulham (orang yang mendapatkan ilham). Dan bukan menunjukkan dianjurkannya cari ilham, seperti petuah tokoh-tokoh tua kaum sufi. Bagaimana mereka dapat memastikan bisikan-bisikan dalam hati itu adalah ilham Sementara mereka menjauhkan dari majlis-majlis ilmu yang dengan ilmu syar8217i inilah sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Mereka bealasan lagi: 8220Ini bukan bisikan-bisikan syaitan, tapi ilmu laduni ini mengubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 8216alaihi wassalam: 8220Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Kerana dengannya ia melihat cahaya Allah8221. (H. R em Tirmidzi) Hadits ini dho8217if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Kerana ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho8217if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits). Singkatnya, ilham tidaklah dapat mengganti ilmu naqli (Al Qur8217an dan As Sunnah), lebih lagi sekadar firasat. Ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan batil yang ada pada mereka seperti mengaku mengetahui alam ghaib, merupakan bukti kedustaan ​​diatas kedustaan. Bererti, yang ada pada kaum sufi dengan ilmu laduninya, bukanlah suatu ilham melainkan bisikan-bisikan syaithan atau firasat rosak yang bersumber dari hawa nafsu semata. Disana masih banyak syubhat-syubhat mereka, tapi laksana sarang laba-laba, dengan fitrah sucipun boleh meruntuhkan dan membantahnya. Hadits-Hadits Dho8217if Dan Palsu Yang Tersebar Di Kalangan UMAT Hadits Ali bin Abi Thalib: 161616181615 1618161416161616 161616171612 16161618 1614161816141616 1616 161416171614 1614161416171614 1548 1614161516181612 16161618 1614161816141616 1616 1548 16141618161616151615 16161618 1615161516181616 16141618 161416141614 16161618 1616161416161616 8220Ilmu Batin merupakan salah satu rahsia Allah 8216Azza wa Jalla, dan Salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya8221. Keterangan: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 174, beliau berkata: 8220Hadits ini tidak shahih dan secara majoritas para perawinya tidak dikenal8221. Al Imam Adz Dzahabi berkata: 8220Ini adalah hadits batil8221. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa teve ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha8217ifah no 1227) (Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31III1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli Tasawuf Dan Ilmu Laduni. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun por e-mail.) Ilmu ladunny diisyaratkan kepada ilmu yang diperoleh hamba Tanpa menggunakan sarana, tapi berdasarkan ilham Alá, yang diperkenalkan Alá kepada hamba-Nya, seperti ilmu Khidhir yang diperoleh tanpa sarana seperti halnya Musa. Allah befirman, Telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Al-Kahfi: 65) Di satu sisi Khidhir adalah seorang hamba dan juga rasul, dan di sisi lain Musa juga seorang hamba dan rasul. Pada diri Musa tersisa sifat-sifat kekerasan, karena beliau dibesarkan di rumah Firaun. Suatu hari beliau menyampaikan pidato. Ada seseorang bertanya, Siapakah orang yang paling berilmu Musa menjawab, Aku. Karena beliau tidak menisbatkan ilmu itu kepada Allah, maka Allah menghardiknya, dan memerintahkan agar beliau pergi untuk belajar dari Nabi Khidhir, yang sebelumnya telah diberikan wahyu agar memberi pelajaran yang pas kepada Musa. Begitulah yang disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhary. Ada perbedaan antara rahmat dan ilmu. Keduanya dijadikan berasal dari samping Alá e dari sisi Allah, karena memang keduanya tidak diperoleh begitu saja oleh hamba. Kata min ladunhu lebih khusus dan menunjukkan jarak yang lebih dekat daripada kata min indihi, yang keduanya sama-sama berarti dari sisi-Nya. Maka dari itu Allah befirman, Dan, katakanlah, Ya Rabbi, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (Al-Isra: 80). Min ladunhu berupa kekuasaan yang menolong, sedangkan min indihi berupa pertolongan yang diberikan kepada orang-orang Mukmin. Ilmu ladunny merupakan buah ubudiyah, kepatuhan, kebersamaan dengan Allah, ikhlas karena-Nya dan berusaha mencari ilmu dari misykat Rasul-Nya serta ketundukan kepada beliau. Dengan begitu akan dibukakan kepadanya pemahaman Al-Kitab dan As-Sunnah, yang biasanya dikhususkan pada perkara tertentu. Ali Bin Abu Thalib pernah ditanya seseorang, Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kekhususan tertentu tentang suatu perkara kepada kalian, yang tidak diberikan kepada selain kalian Maka dia menjawab, Tidak. Demi yang membelah biji-bijian dan menghembuskan angin, selain dari pemahaman tentang Al-Quran yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Inilah yang disebut ilmu ladunny yang hakiki, yaitu ilmu yang datang dari sisi Allah, ilmu tentang pemahaman Kitab-Nya. Sedangkan ilmu yang menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah, tidak diikat dengan keduanya, maka itu datang dari hawa nafsu dan syetan. Memang bisa saja disebut ilmu ladunny. Tapi dari sisi siapa Suatu ilmu bisa diketahui sebagai ilmu ladunny, jika ia sesuai dengan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang berasal Allah. Jadi ilmu ladunny ada dua macam: Dari sisi Allah, dan dari sisi syetan. Materinya disebut wahyu. Sementara tidak ada wahyu setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ilmu ladunni diambil dari kalimat minladunna ilman. Ilm yang berasal dari sisi Kami (Allah) terciano dalam surat Al Kahfi. 65 lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami yaitu ilmu yang langsung berasal dari Allah berupa ilham atau wahyu. Menurut para mufassir hamba Allah di Sini adalah nabi Khaidhir, dan yang dimaksud dengan rahmat ialah wahyu dan kenabian. Sedang yang dimaksud ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang tercantum dalam kisah nabi Musa dan nabi Khidhir berikut ini: Musa berkata kepada Khidhir: bolehkah aku mengikutimu supaya mangajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu Dia Khidir menjawab: sesungguhnya kamu Sekali-kali tidak akan saggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu Musa berkata: insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun. Khidir berkata: Kamu mengikutiku, maka janganlah kau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku Sendiri menerangkannya kepadamu. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhir melobanginya, Musa berkata: mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar. Dia (Khidhir) berkata: bukankah aku telah berkata. Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku. Musa berkata. Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Maka berjalanlah keduanya: hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir membunuhnya. Musa berkata: mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar. Khidhir berkata: bukanlah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku Musa berkata: jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku. Maka keduanya berjalan: hingga takala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata: jikalau kamu mau niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Khidhir berkata: inilah perpisahan antara aku dengan kamu: aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan Lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya) Adapt Dinding Rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan dibawahnya ada Harta Benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka tuhanmu mengendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan Simpanannya itu sebagai rahmat dari tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menuruti kemauanku sendiri, demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (QS. Al Kahfi: 66-82) Dari kisah tadi dapat disimpulkan bahwa ilmu ladunni adalah ilmu mukasyafah (mampu melihat dengan pandangan bathinnya) yang berasal dari ilham maupun dari wahyu. Juga dapat disimpulkan bahwa ilmu mukasyafah banyak bertentangan dengan ilmu syariat yang ada, sehigga tidak bisa dijadikan landasan hukum agama. Karena itu Musa selalu membantah apa yang dilakukan oleh nabi Khaidhir. Maka dari itu ilmu mukasyafah itu hanya untuk diri sendiri dan bagi yang mengerti ilmu ini saja, bukan dijadikan dalil hukum-hukum agama. Kecuali yang tidak bertentangan dengan nash Alquran dan Al hadist. Ilmu mukasyafah ini bukan hasil mempelajari suatu ilmu tetapi merupakan ilham yang diletakkan kedalam jiwa orang mukmin yang hatinya bersih. Jika hal ini terjadi kepada kita maka kita diberi kefahaman untuk menangkap suatu kejadian yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Karena jiwa yang bersih dapat melakukan komunikasi kepada sumber ilmu yaitu Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. Adapun manfaat ilmu mukasyafah ini adalah untuk menjaga dan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi terhadap kita maupun terhadap lingkungan, sehingga kita bisa mengantisipasi sedini mungkin. Ittaquu firasatal mukmin. Percayalah kepada firasatnya orang-orang mukmin Menurut Hujjatul Islam Al Ghazali bahwa pada garis besarnya, seseorang mendapat ilmu itu ada dengan dua cara: 1. Proses pengajaran dari manusia, disebut: Em Talim Al Insani, yang dibagi menjadi dua, yaitu: a. Belajar kepada orang lain (di luar dirinya). B. Aprenda sozinho dengan menggunakan kemampuan akal pikirannya sendiri. 2. Pengajaran yang langsung diberikan Alá kepada seseorang yang disebut Em Talim Ar Rabbani. Ini dibagi menjadi dua, yaitu: a. Diberi dengan cara wahyu, yang ilmunya disebut: ilmu Al Anbiya (Ilmu Para Nabi) dan ini khusus untuk para nabi. B Diberikan dengan cara ilham yang ilmunya disebut Ilmu ladunny (ilmu dari sisi Tuhan). Ilmu ladunny ini diperoleh dengan cara langsung dari Tuhan tanpa perantara. Kejadiannya dapat diumpamakan seperti sinar dari suatu lampu gaib yang sinar itu langsung mengenai hati yang suci bersih, kosong lagi lembut. Ilham ini merupakan perhiasan yang diberikan Allah kepada para kekasih Nya (para wali). Kisah simbolik anatara Nabi Musa dengan nabi Khidir ini mengisyaratkan adanya tingkatan-tingkatan kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki Khidlir dapat dikategorikan kecerdasan espiritual. Sementara modelo kecerdasan yang ditampilkan Nabi Musa adalah kecerdasan intelektual. Kisah ini juga mengisyarakan bahwa kecerdasan espiritual tidak hanya dapat diakses oleh para Nabi tetapi manusia yang buka Nabi pun berpotensi untuk memperolehnya. Al-Gazali sesungguhnya sudah lama telah memperkenalkan modelo kecerdasan espiritual ini dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep mukasyafah dan konsep ma8217rifah-nya. Menurut Al-Gazali, kecerdasan espiritual (ladunni) dalam bentuk mukasyafah (ungkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan. Roh tidak lagi terselubung por khayalan pikiran dan akal pikiran tidak lagi menutup penglihatan terhadap kenyataan Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan-kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa. Mukasyafah ini juga merupakan sasaran terakhir dari para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya dalam di atas kepastian. Kepastian yang mutlak tentang sebuah kebenaran hanya mungkin ada pada tingkat ini. Kecerdasan spiritual menurut Al-Gazali dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan 8220kata-kata8221 yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya dengan maksud supaya disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuknya. Sedangkan ilham hanya merupakan 8220pengungkapan8221 (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan melalui batinnya. Al-Gazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali tetapi diperuntukkan kepada siapapun juga yang diperkenankan por Allah. Menurut Al-Gazali, tidak ada perantara antara manuscrito e pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni danôti, bersih, dan lembut. Dari sini Al-Gazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. Ilham berada di wilayah supra conciousnes sedangkan intuisi hanya merupakan sub-conciousnes. Allah Swt sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung contra Allah Swt, itulah yang disebut 8216Ilm al-Ladunny por Al-Gazali. Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai, karena kepandaian itu, Allah Swt. Al-Gazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip Q. S. Al-Baqarah2: 269: Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan como Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Al-Gazali mengakui adanya hierarki kecerdasan dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia. Namun Al-Gazali hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu: 1.Kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akan (al-8216aql) 2.Kecerdasan Spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan ruhani, yang ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik (intuisi). Ibn Arabi menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan espiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu yaitu pengetahuan kudus (8216ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (8216ilm al-asr177r) dan ilmu pengetahuan tentang gaib (8216ilm al-gaib ). Ketiga jenis ilmu pengetahuan ini tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual. Tentang kecerdasan intelektual, Ibn 8216Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan bahwa intelektualitas manuscrito tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah yang mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas. Al-Gazali dan Ibn 8216Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksessibilitas kecerdasan espiritual. Menurut Al-Gazali, jika seseorang mampu mensinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada diri manusia, maka yang bersangkutan dapat 8220membaca8221 alam semesta. Kemampuan membaca alam semesta di sini merupakan anak tangga menuju pengetahuan (ma8217rifah) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta menurut Al-Gazali merupaka 8220tulisan8221 Allah Swt. Menurut Al-Gazali, hampir seluruh manuscrito pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain dengan kemampuan membaca alam semesta tadi. Fenomena 8220kenabian8221 bukanlah sesuatu yang sobrenatural, yang tidak memberi peluang bagi manuscrito dengan sifat-sifatnya untuk 8220menerimanya8221. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, maka 8220kenabian8221 menjadi fenomena alami. Keajaiban yang menyertai para Rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral d. 8220kenabian8221, tetapi hanyalah alat untuk pelengkap alam mempercepat umat percaya dan meyakini risalah para Rasul itu. Demikianlah kisah Musa dengan Khidhir, maka bergantung kepada kisah ini untuk memperbolehkan ketidak butuhan wahyu kepada ilmu ladunny, merupakan kufur yang mengeluarkan pelakunya di Islam. Adapun perbedaannya, Musa tidak diutus sebagai rasul kepada Khidhir dan Khidhir tidak diperintah untuk menjadi pengikut Musa. Andaikan Khidhir diperintahkan menjadi pengikut Musa, tentunya Khidhir diperintahkan untuk mendatangi Musa dan hidrol bersama beliau. Karena itu Khidhir bertanya kepada Musa, Kamukah Musa, nabi Bani Israel Musa menjawab, Ya. Sementara Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus kepada semua manusia. Risalah beliau diperuntukkan bagi jin dan manusia di setiap zaman. Andaikan Musa dan Isa masih escondido, tentu keduanya menjadi pengikut beliau. Andaikan Isa bin Maryam turun ke bumi, tentu Isa akan menerapkan syariat beliau. Maka siapa yang beranggapan bahwa Isa dengan Muhammad sama seperti Musa dengan Khidhir, atau memperbolehkan anggapan seperti ini, maka hendaklah dia memperbarui Islamnya dan mengucapkan syahadatain sekali lagi secara benar. Karena dengan anggapan seperti itu dia telah keluar dari Islam secara total, dan sama sekali tidak bisa disebut wali Allah, tapi wali syetan. Maksud perkataan, Pengetahuannya adalah kesaksiannya, bahwa ilmu ini tidak bisa diambil dengan pemikiran dan kesimpulan, tapi dengan melihat dan menyaksikannya. Maksud perkataan, Sifatnya adalah hukumnya, bahwa sifat-sifatnya tidak bisa diketahui kecuali dengan hukum-hukumnya, sifatnya terbatas pada hukumnya, saksinya adalah hukumnya. Hukum ini merupakan dalil, sehingga antaranya dan hal-hal yang tidak tampak tidak ada hijab. Berbeda dengan ilmu-ilmu lain. Inilah yang diisyaratkan orang-orang, bahwa ilmu ini merupakan cahaya dari sisi Allah, yang mampu menghapus kekuatan indera dan hukum-hukumnya. Inilah makna yang diisyaratkan dalam atsar Ilahy, Jika aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia pergunakan untuk melihat. Demikianlah Ilmu ladunny yang datang dari Allah merupakan buah cinta ini, yang muncul karena mengerjakan nafilah setelah fardhu. Sedangkan ilmu ladunny yang datang dari syetan merupakan buah berpaling dari wahyu, mementingkan hawa nafsu dan memberi kekuasaan kepada syetan. AMANAT RASULULLAH SAW 8220Barang siapa yang menyeru manuscrito kpd hidayah, dia mempunyai pahala seperti pahala yang dicapai oleh orang yang menyahut seruannya tanpa mengurang pahala mereka yang menyambut seruannya, semakin banyak orang yang mengikuti seruannya semakin berlipat kali ganda pahala yang diperolehinya.8221 (Riwayat Muslim) MUTIARA KATA Sayyiditina A8217isyah ra ketika ditanya oleh seorang 8220Bilakah saya mengetahui bahawa diriku telah berbuat baik8221 Jawabnya Bila kamu merasa belum baik. Lalu ditanya lagi Bilakah saya mengetahui bahawa aku jahat (busukkeliru). Jawabnya Jika kamu merasa bahawa kamu sudah baik8221

No comments:

Post a Comment